6 Fakta Almarhum Ustadz Jeffry AL Bukhori Didalam Memperlakukan Istrinya
Abi selalu menggandeng tangan istrinya saat berjalan,
jikapun 1 tangan jg tak bisa menggandeng krn suatu hal, Abi selalu meminta
istrinya yg menggandeng tangannya. Alasannya dia bertanggung jawab atas jalan
istrinya supaya selalu aman.
Abi selalu mencium kening istrinya disaat-saat tertentu,
sebelum & sepulang bekerja, sesudah sholat, sebelum dan sesudah tidur.
Alasannya sebagai tanda bahwa dialah pelindung & penenang istrinya agar
istrinya selalu merasa nyaman.
Abi tidak pernah berteriak pd istrinya, alasannya suara yang
keras dari suami utk istrinya adalah cambuk yang menyakitkan.
Abi tdk prnah mencela dan memaki istrinya sebesar apapun
kesalahan yang diperbuat alasannya makian dan celaan bukan kata yang bijak
mengajarkan kebenaran.
Abi selalu memeluk dan membelai istrinya jika istrinya
berbuat salah, alasannya mulut dan perbuatan istri adalah tanggung jawab suami,
bila istri sampai tidak terkontrol itu adalah salah suami, sebab itu dia selalu
memeluk dan membelai istrinya sambil berkata “maafkan Abi, lain kali jangan
kamu ulangi kesalahan itu lagi, jadilah istri yang soleha dan baik, salahkan
Abi saja”.
Abi selalu bangun sebelum dan berangkat tidur setelah
istrinya, alasannya kewajibannyalah utk melindungi hidup istrinya dimulai saat
bangun tidur dan sampai αƙαn tidur, itulah janji suami pd istrinya.
Sunnah Nabi
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِيْ
“Sebaik-baik kamu ialah yang paling baik terhadap keluarganya,
dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku”
Keteladanan tertinggi dalam keluarga tentu yang menjadi
satu-satunya contoh adalah Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Meski bagaimanapun besarnyaperhatian dan banyaknya kesibukan beliau dalam
mengembangkan dakwah dan menegakkan agama, memelihara jama’ah, menegakkan tiang
daulah, beliau tetap sangat memperhatikan para isterinya. Beliau adalah manusia
yang senantiasa sibuk berhubungan dengan Tuhannya seperti berpuasa, shalat, membaca
al-Qur’an, dan berdzikir, sehingga kedua kaki beliau bengkak.
Namun, sesibuk apapun beliau tidak pernah melupakan hak-hak
isteri-isteri beliau yang harus beliau penuhi. Jadi, aspek-aspek Rabbani
tidaklah melupakan beliau terhadap aspek insani dalam melayani mereka dengan
memberi makanan ruhani dan perasaan mereka yang tidak dapat terpenuhi dengan
makanan yang mengenyangkan.
Dalam menjelaskan sikap Rasulullah dan petunjuk beliau dalam
mempergauli istri, Imam Ibnu Qayyim berkata:
“Sikap Rasulullah terhadap
isteri-isterinya adalah bergaul dan berakhlak baik kepada mereka. Beliau pernah
menyuruh gadis-gadis Anshar menemani Aisyah bermain. Apabila Aisyah
menginginkan yang tidak dilarang oleh agama, beliau menurutinya. Bila Aisyah
minum dari suatu bejana, maka beliau ambil bejana itu dan beliau minum dari
padanya pula dan beliau letakkan bibir beliau di tempat bibir Aisyah tadi, dan
beliau juga biasa makan kikil bergantian dengan Aisyah.
Beliau biasa bersandar di pangkuan Aisyah, beliau membaca
al-Qur’an sedang kepala beliau berada di pangkuannya. Bahkan pernah ketika
Aisyah sedang haid, beliau menyuruhnya memakai sarung, lalu beliau memluknya.
Bahkan, pernah juga menciumnya, padahal beliau sedang berpuasa”.
Memang, sebagai seorang suami harus bersikap lemah-lembut
pada istrinya, lebih-lebih dalam hal perkataan. Ada sebagian suami yang mungkin
menyakiti isterinya tidak memukul, tapi dia sering menyakiti isterinya dengan
perkataannya yang keras dan kasar. Menyakiti dengan perkataan keras dan kasar
rasa sakitnya melebihi rasa sakit pukulan. Oleh sebab itu, semaksimal mungkin
dalam menjaga perkataan kepada isteri. Nabi bersabda,
اِنَّ اللهَ يَبْغَضُ الْجَعْظَرِيَّ اْلجَوَاظَ
“Sesungguhnya Allah membenci al-ja’zhari al-jawawazh”
Tentang penafsiran hadits di atas, dikatakan bahwa yang
dimaksud adalah orang yang bersikap keras pada isterinya dan sombong pada
dirinya. Dan ini merupakan salah satu makna firman Allah: ‘uthul dalam ayat:
عُتُلٍّ بَعْدَ ذَلِكَ زَنِيمٍ
“yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal
kejahatannya” (QS. Al-Qalam:13)
Ada yang mengatakan bahwa lafad ‘uthul berarti orang yang
kasar mulutnya (perkataannya) dan keras hatinya terhadap keluarganya.
Keharusan suami bergaul dengan baik terhadap isteri
dinyatakan oleh Allah,
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالمَعْرُوفِ
“Dan bergaullah dengan mereka secara ma’ruf”
Ayat di atas dengan jelas mengahruskan seorang suami bergaul
dengan isteri secara ma’ruf. Kata ma’ruf oleh sebagian ulama’ dipahami dengan
arti tidak mengganggu, tidak memaksa, dan juga lebih dari itu, yakni berbuat
atau perlakuan baik kepada isteri. Imam al-Ghazali berkata: “Ketahuilah bahwa
yang dimaksud perlakuan baik kepada isteri bukan hanya tidak menyakiti mereka,
tetapi juga sabar menerima keluhan mereka serta memperlakukannya (menyikapinya)
dengan kelembutan dan memaafkan di saat mereka menumpahkan emosi dan
kemarahan.”
Analisa tentang sikap Uje pada isterinya
1. Menggandeng tangan isterinya ketika berjalan
Menggandeng tangan merupakan tanda keeratan suatu ikatan
hati dan cinta diantara dua anak manusia, serta sebagai bukti bahwa diantara
keduanya tidak akan membiarkan orang yang dicintai lepas dari sisinya.
2. Mencium kening istrinya
Mencium kening selain sebagai tanda pelindung dan penenang
istri, juga sebagai bukti bahwa ada rasa cinta dan sayang. Orang yang tidak
cinta dan sayang, dia enggan mencium kening seorang pasangannya. Dan lagi,
mencium kening seseorang yang dicintai akan menambah-kuatkan rasa cinta.
3. Tidak pernah berteriak pada istrinya
Memang, suara yang keras dari suami untuk istrinya adalah
cambuk yang menyakitkan. Sebab, perasaan perempuan sangat lembut. Sesuatu yang
lembut ditimpa sesuatu yang keras akan membuat sesuatu yang lembut itu
tertindih dan tertekan.
4. Tidak prnah mencela dan memaki istrinya
Makian dan celaan bukan kata yang bijak mengajarkan
kebenaran. Karena dengan kelembutan, kesalahan seorang isteri akan bisa
diperbaiki, serta kekeliruannya akan mudah dibenarkan. Ingat! Perempuan adalah
makhluk yang memiliki perasaan yang lembut.
5. Memeluk dan membelai istrinya
Berpelukan akan memberi energi khusus bagi perasaan. Ketika
kita berada dalam pelukan seseorang, kita merasakan ada kekuatan yang membaluti
kelemahan diri kita, kita merasakan kehangatan ketika tubuh kita menggigil
kedinginan, kita merasakan ditata ketika jiwa, hati dan perasaan hancur, kita
merasa tidak takut ketika ada sesuatu yang menghantui diri kita, kita merasa
aman ketika ada seseuatu yang mengancam diri kita, kita merasa bahagia ketika
derita menimpa kita, kita merasa sempurna ketika kita sebelum dipeluk merasa
diri kita kurang, dan kita merasa menyatu ketika kita berpelukan.
Membelai isteri merupakan sentuhan yang menunjukkan sikap
kelembutan, sikap kasih sayang, dan sikap kemesraan. Seorang suami yang tidak
pernah membelai isterinya, rasa kasih sayangnya perlu dipertanyakan.
6. Selalu bangun sebelum dan berangkat tidur setelah
istrinya
Hal inilah yang dimaksud, menjaga dan melindungi orang yang
dicintai dalam keadaan apapun dengan usaha yang maksimal.
Semoga kita (para suami dan calon suami) bisa meniru
sikap-sikap almarhum Uje pada isterinya. Sehingga kita (para suami) menjadi
suami yang shalih dan tentu akan dikenang oleh isteri kita, dan kita (calon
suami) akan menjadi impian para perempuan. Dan, semoga Uje diterima di sisi
Allah swt. Amin…
0 Response to "6 Fakta Almarhum Ustadz Jeffry AL Bukhori Didalam Memperlakukan Istrinya"
Posting Komentar