Kecap dibutuhkan, tapi kedelai masih tergantung impor
Pekerja memasak gula merah dan kedelai hitam untuk membuat
kecap di industri kecap tradisional di Pekandangan, Indramayu, Jawa Barat.
Pekerja memasak gula
merah dan kedelai hitam untuk membuat kecap di industri kecap tradisional di
Pekandangan, Indramayu, Jawa Barat.
Tidak berlebihan jika kita menyatakan bahwa penduduk
Indonesia membutuhkan kecap. Masyarakat dari berbagai daerah kerap menggunakan
kecap sebagai teman makan atau bumbu masak seperti nasi goreng, soto, bubur,
bakso, dan sebagainya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pertanian
(Kementan) pada 2017 yang dipelajari Lokadata Beritagar.id menunjukkan; selama
15 tahun terakhir, rata-rata laju pertumbuhan kebutuhan kedelai untuk kecap
mencapai 4,5 persen setiap tahun.
Artinya, kebutuhan terhadap kedelai sebagai bahan utama
kecap pun tak dapat dielakkan. Masalahnya, pertumbuhan produksi kedelai lokal
tak signifikan.
Apalagi, kedelai bukan hanya digunakan untuk kecap, tapi
juga bahan makanan lain seperti tahu, tempe, oncom, serta bisa dibuat menjadi
susu.
Kecap hanya mengambil secuil dari konsumsi kedelai
Indonesia. Sebagian besar hasil kedelai digunakan sebagai bahan baku tempe dan
tahu.
Dengan kebutuhan yang tinggi seperti itu, produksi kedelai
dalam negeri tak mampu mengimbangi. Alhasil pemerintah harus impor kedelai.
Merujuk data BPS, impor terbesar pada 2018 berasal dari Amerika Serikat (AS),
mencapai 90 persen.
Hanya sebagian kecil
produksi kedelai yang digunakan untuk membuat kecap.
Hanya sebagian kecil
produksi kedelai yang digunakan untuk membuat kecap.
Masalah diperparah oleh harga kedelai impor yang lebih murah
dan kualitasnya juga dinilai di atas kedelai lokal. Ketua Umum Gabungan
Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo), Aip Syaifuddin berpendapat
dari segi kualitas dan harga kedelai impor lebih ramah kepada industri
dibandingkan dengan kedelai lokal.
"Kedelai impor juga lebih murah pada kisaran Rp7.000
per kg dibandingkan dengan kedelai lokal yang menyentuh angka Rp8.500 per
kg," ujar Aip kepada Bisnis.com (29/8/2018).
Sejauh ini, pemerintah selalu mencanangkan swasembada
kedelai. Namun itu sulit terwujud. Dibandingkan komoditas pangan lain seperti
beras dan jagung, peningkatan produksi kedelai justru paling sulit.
Penyebabnya antara lain, Indonesia kekurangan lahan untuk
menanam kedelai. Andai ada lahan pun tidak dapat dimanfaatkan dengan baik.
Pada 2013, setiap hektar lahan kedelai di Indonesia hanya
mampu memproduksi 1,5 ton kedelai. Padahal luas lahan yang sama di AS bisa
memproduksi 3 hingga 3,5 ton.
Selain itu, rendahnya produktivitas kedelai lokal disebabkan
tidak adanya ketersediaan subsidi pupuk dan pemberian benih kedelai varietas
unggul ke petani.
Menanam kedelai juga ternyata sulit. Lahan yang digunakan
untuk tanaman ini memiliki spesifikasi tertentu.
"Lahan yang cocok untuk kedelai biasanya PH-nya netral.
Kemudian dia mempunyai kedalaman minimal 20 cm. Biasanya daerah-daerah yang di
luar Jawa itu tanahnya masam sehingga PH-nya perlu dinetralkan," ujar
Sumarjo Gatot Irianto, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, kepada
Merdeka.com, Jumat (11/1/2019).
Tahun ini, Kementan mencoba menggelontorkan sejumlah bantuan
untuk para petani kedelai guna mengatasi masalah kekurangan kedelai. Salah
satunya berupa bantuan benih di sejumlah wilayah yang menjadi sentral tanaman
kedelai.
Selain itu, Kementan mewacanakan adanya rencana pengenaan
wajib tanam bagi importir kedelai. Namun, menurut Gatot, saat ini diskusi soal
kewajiban impor baru sampai pembahasan internal dan belum memberikan target
realisasi.
"Ini usulan teman pedagang, jangan mereka dikasih izin
impor tapi tidak ada tanggung jawab produksi dalam negeri. Kami setuju dan akan
kami dorong untuk dibahas di rakortas," ujar Gatot kepada Kontan.co.id
Konsumsi kecap untuk
berbagai jenis makanan di Indonesia.
Konsumsi kecap
sebetulnya tidak merata ke semua provinsi. Penduduk Kalimantan Selatan
(1.471ml/kapita/tahun) jadi konsumen kecap tertinggi, sementara Nusa Tenggara
Barat (256ml/kapita/tahun) merupakan konsumen terendah.
Konsumsi kecap lebih banyak terkait faktor makanan yang
digemari di provinsi tersebut. Di wilayah yang penduduknya banyak mengonsumsi
nasi goreng dan soto, ada kecenderungan konsumsi kecap juga tinggi.
Bagaimana soal produksi?
Sebaran pabrik kecap skala sedang dan besar terbanyak ada di
provinsi Jawa Timur sebanyak 34 pabrik, diikuti Jawa Barat sebanyak 24 pabrik.
Kedua daerah itu memang punya konsumsi kecap yang tinggi, masing-masing
melebihi 1.000 mililiter per kapita.
Meski begitu, konsumsi tinggi tak berarti pabrik kecap bisa
menjamur di sebuah daerah. Contohnya provinsi Kalimantan Selatan yang punya
konsumsi kecap tertinggi hanya memiliki satu pabrik kecap berskala sedang dan
besar.
0 Response to "Kecap dibutuhkan, tapi kedelai masih tergantung impor"
Posting Komentar